Selasa, Maret 22, 2011

Dewan Dan Pemkab Malang Saling Tuding

 Malang - Menjamurnya keberadaan minimarket di sekitar pasar tradisional banyak dikeluhkan pedagang. Melihat itu, DPRD Kabupaten Malang mendesak pemerintah daerah mengatur pendirian pasar modern di wilayahnya.

"Pasar modern harus diatur, jangan sampai keberadaan mereka mematikan pasar lokal," kata  Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sanusi kepada detiksurabaya.com melalui telepon  genggamnya, Kamis (17/3/2011).

Menurutnya, pasar tradisional selama ini menjadi lahan pangan bagi masyarakat lokal, serta menjadi peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar. "Jika keberadaan mereka terancam, bagaimana nasib mereka," ujar politisi PKB ini.

Sementara, Asisten I Pemkab Malang, Nurman Ramdansyah membantah pemerintah daerah tak mengatur keberadaan pasar modern. Karena perda bakal menjadi payung hukum, telah digulirkan kepada anggota dewan. "Perdanya sudah kita buat, sekarang masih dibahas di DPRD," jelasnya terpisah.

Dia mengaku, keberadaan pasar modern atau minimarket sudah diinventarisir dinas terkait. Dan selama ini belum ditemukan masalah terkait pendirian tempat usaha itu.

Sebelumnya, adanya perda yang mengatur keberadaan pasar modern, lanjut Nurman, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2008 tentang pasar modern menjadi payung hukum sementara.

"Tujuan kami dalam perda itu, agar tidak mematikan pasar lokal. Dan selama ini keberadaan pasar modern tak mengganggu pedagang pasar tradisional," bebernya. Dia berharap, perda segera bisa diterbitkan, agar keberadaan pasar modern dapat tertata.

(bdh/bdh)
Share:

Minggu, Februari 13, 2011

Soekarno dan Kartosoewiryo

Partai.mestimoco.com - Jika panggung sejarah hanya berisi dua tokoh: Bung Karno dan Kartosoewirjo, maka yang terjadi adalah sebuah drama tragedi kehidupan yang sangat dramatis. Bahkan, hampir bisa dipastikan, jauh lebih mencekam dibanding lakon “Lawan Catur”, seb...uah naskah drama karya Kenneth Arthur (Kenneth Sawyer Goodman) yang diterjemahkan dengan apik oleh almarhum Rendra.

Lakon “Lawan Catur”, hanya menyuguhkan tokoh Samuel dan Antonio. Keduanya terlibat permainan catur yang penuh trik, penuh strategi, penuh konflik, dan secara keseluruhan begitu memukau, mencekam, dan pada akhirnya menghibur. Sedangkan tokoh Oscar dan Verka lebih sebagai pemain figuran. Repertoar itu begitu memukau di tangan sutradara handal seperti Rendra.
Tak ubahnya Bung Karno dan Kartosuwirjo. Sejak tahun 1918 keduanya terlibat jalinan pertemanan yang kental di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya.

Mereka bahu-membahu berjuang demi kejayaan negeri bersama Cokro. Akan tetapi, di bagian akhir, keduanya terlibat perbedaan paham yang keras. Bung Karno yang nasionalis berselubungkan Pancasila. Karwosoewirjo bergaris Islam ekstrim, dan menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Dengan sutradara Tuhan Yang Maha Agung, “drama” keduanya benar-benar mencekam, dengan ending yang tragis.

Melayang ke tahun 1918, 1919 … dan masa-masa di sekitar itu, Bung Karno dan Kartosoewirjo benar-benar berkarib. Di luar konteks kebangsaan, mereka bergaul layaknya anak muda pada zamannya. Termasuk, saling ledek, saling ejek, dan saling lempar canda dan tawa.

Ingat kebiasaan Bung Karno berpidato di depan kaca di dalam kamar yang pengap dan gelap? Ya, di satu
kamar paling ujung, satu-satunya kamar tak berjendela sehingga siang-malam Bung Karno harus menyalakan pelita, Bung Karno acap berpidato berapi-api. Dari luar kamar, teriakan-teriakan Bung Karno membahana. Sekali-dua, rekan-rekan satu pemondokan menegurnya. Akan tetapi, ketika Bung Karno tidak juga menghentikan kebiasaannya berpidato di depan cermin… mereka pun mengabaikan.

Nah, salah satu penghuni rumah yang tak bosan berkomentar atas ulah Bung Karno hanyalah Kartosoewirjo. “Hei Karno… buat apa berpidato di depan kaca… seperti orang gila saja….” Kartosoewirjo tak bosan mengejek dan melempar ledekan kepada Bung Karno? Atas itu semua, Bung Karno tak menggubris. Ia melanjutkan orasinya, meski hanya didengar tembok dan sekawanan cicak, nyamuk, dan keremangan suasana.

Usai berpidato, barulah Bung Karno membalas ledekan Kartosoewirjo. Pertama-tama, Bung Karno akan mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah satu persiapan menjadi orang besar…. Jika Kartosoewirjo meladeni, maka aksi saling ledek pun berlanjut. Ibarat “lawan catur” langkah skakmat Bung Karno untuk membungkam ejekan Kartosoewirjo adalah kalimat menusuk seperti ini, “… tidak seperti kamu…. udah kurus, kecil, pendek, keriting… mana bisa jadi orang besar!”

Lakon terus bergulir. Keduanya terus memperjuangkan ideologinya. Keduanya bertujuan memberi yang terbaik buat bangsanya. Sampailah Bung Karno pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sedangkan Kartosoewirjo, meski pernah direkrut Bung Karno sebagai Wakil Menteri Pertahanan, tetapi ideologi garis kanan tak luntur.
Alih-alih menopang republik yang baru seumur jagung, Kartosoewirjo nyempal dan mendirikan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII). Bahkan tahun 1948, Kartosoewirjo memakulmatkan perang kepada Bung Karno (pemerintah yang sah). Lalu dua tahun kemudian, 1950, ia menyalakkan api perang dengan statemennya, “Bunuh Sukarno. Dialah penghalang pembentukan Negara Islam.”

Sejak itu, sejumlah usaha pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan oleh para teroris anak buah Kartosoewirjo. Peristiwa penggranatan Cikini 30 November 1957 adalah salah satu saja dari sekian banyak rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno oleh anak buah Kartosoewirjo. Masih ada peristiwa lain seperti penembakan Istana oleh Maukar. Kemudian penembakan waktu Bung Karno sedang shalat Idul Adha di masjid Istana, dan lain-lain upaya yang semuanya gagal.

Sebaliknya, TNI berhasil mendesak DI/NII, menangkap gembong Kartosoewirjo dan ia pun dihukum mati. Akan tetapi, sebelum Bung Karno menandatangani surat persetujuan eksekusi mati, juga tersimpan kisah menarik yang sungguh mengharukan.

Sukarno menangis di depan Mayjen S Parman (Asisten I/Menpangad) Kejadiannya di satu pagi pada tahun 1964, S Parman membawa surat keputusan eksekusi mati pada Kartosuwirjo. Sukarno tidak kuat menandatangani surat hukuman mati pada teman kecilnya itu. Lalu ia meminta S Parman kembali setelah Maghrib, sepanjang hari itu Sukarno gelisah. Ia shalat terus menerus dan berdoa, barulah seusai maghrib ia menandatangani surat eksekusi. Inilah surat eksekusi yang selalu diingat Sukarno karena memang ini hanya satu-satunya surat eksekusi kematian yang pernah ditandanganinya.

Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

Share:

Rabu, Januari 26, 2011

Nasdem Organisasi Terlarang ???

Partai.mestimoco.com - Sekjen Nasional Demokrat (Nasdem) Syamsul Muarif menyesalkan adanya parpol yang melarang anggotanya masuk Nasdem. Menurut dia parpol seharusnya tak khawatir, karena Nasdem tak akan menjadi parpol dan menjadi saingan mereka.

"Apa dasarnya melarang masuk Nasdem, apa kita ini organisasi terlarang," ujar Syamsul saat jumpa pers usai pengukuhan pengurus Nasdem wilayah Jawa Barat di Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika, Selasa (25/1/2011).

Syamsul mengatakan harusnya parpol merasa senang, karena jika seseorang bergabung dengan banyak organisasi, maka wawasannya luas dan tidak akan menjadi pribadi yang egois.

"Jika ada parpol yang melarang masuk ke Nasdem, itu paradigma yang ingin diperbaiki," cetusnya.

Syamsul membeberkan pihaknya akan segera berdialog dengan parpol untuk menghapus anggapan Nasdem akan menjadi parpol. "Pada tanggal 30 Januari mendatang, Nasdem akan menggelar simposium penutupan dan tanggal 31 gelar rapim, di dalamnya tidak akan dibahas AD ART untuk perubahan Nasdem jadi parpol," katanya.

Sekjen Golkar Idrus Marham mengingatkan anggotanya yang masih berada di Nasdem untuk keluar. Menurutnya jika masuk Nasdem, berarti gugur keanggotannya dari Partai Golkar.

Idrus juga mengimbau agar anggotanya fokus dengan kerja parpol. Ia meminta aggotanya tidak terpancing dengan ormas-ormas di luar Golkar.
(ern / H2o)

Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Rabu, Januari 12, 2011

BERITA : Gerindra Mulai Rangkul PDIP

Partai.mestimoco.com - Seolah tak mau kalah dengan manuver partai besar terkait calon presiden 2014, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mulai menjual Prabowo Subianto menjadi capres resmi Gerindra kepada partai lain.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan, Gerindra akan kembali mengusung Prabowo Subianto (Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra) dalam Pilpres 2014. Hanya bedanya, dalam pilpres mendatang Prabowo akan mencalonkan diri menjadi presiden.
Sedang dalam Pilpres 2009, mantan pangkostrad tersebut menjadi cawapres mendampingi Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. “Komunikasi berjalan dengan baik dengan PDIP. Semuanya nantinya akan tergantung dinamika politik dan kami berharap masih bersama PDIP,” kata Fadli Zon di Gedung DPR RI, Selasa (11/1).
Selain membuka diri dengan PDIP, menurut Fadli Zon, Gerindra juga telah membangun komunikasi dengan partai lainnya. Dia berharap PDIP mau mendukung langkah Gerindra mengusung Prabowo menjadi calon Presiden.
Ditambahkan pula, saat ini komunikasi soal calon presiden masih sangat terbuka, sehingga opsi yang diajukan Gerindra bisa dikomunikasikan.
Fadli yakin komitmen yang pernah dibangun dengan PDIP tidak akan luntur hingga 2014. Dia percaya PDIP bisa menjaga hubungan baik dengan partainya. “PDIP itu sangat menghormati Mbak Mega dan hingga saat ini beliau masih satu kata dengan perbuatan,” jelasnya.
Dia menyadari, saat ini masih terlalu pagi untuk melempar wacana soal pilpres. Karena pilpres juga masih jauh, yakni 2014. Namun, pembiacaraan terkait pilpres sudah mulai terasa.
“Karena rakyat membutuhkan pemimpin tegas, yang bisa mengatasi persoalan bangsa. Makanya Gerindra akan berupaya keras untuk mengusung Pak Prabowo,” urainya.
Prabowo menyatakan bakal maju menjadi presiden dalam Pilpres 2014 ketika berbicara di depan kadernya dalam acara peresmian Kantor DPD Partai Gerindra Jatim di Jl Dukuh Kupang Baru, Surabaya, beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga meminta kadernya di bawah untuk menyukseskan langkahnya. Bahkan, Jatim akan dijadikan lumbung suara bagi Partai Gerindra.
Enggan Menjawab
Namun, Prabowo Subianto enggan menanggapi isu adanya kesepakatan tertentu antara dirinya dengan Megawati Soekarnoputri menghadapi Pilpres 2014. Dia mengatakan, tahapan pilpres masih lama.
“Nanti saja, masih jauh 2014,” ujar Prabowo usai peringatan HUT ke-38 PDIP di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (10/1).
Di internal PDIP sendiri dorongan sejumlah tokoh PDIP untuk mengusung kembali Megawati Soekarnoputri sangat kuat. Mega menegaskan, membicarakan calon presiden 2014 saat ini belum revelan.
“Saya tadi bilang kenapa sih terburu-buru, mbok pikirin kenapa harga cabai naik,” kata Mega. (Surya)

Kontributor Artikel & Foto : Herman Hidayat Profile Facebook Herman Hidayat klik di sini. Herman adalah Pemilik MestiMoco.com.

www.MestiMoco.com
Share:

Arsip Blog